Sekedar share nih buat temen temen yang bingung mau ambil jurusan apa kalau kuliah..
nih
sumbernya~
Halo pembaca!
Artikel ini saya buat berdasarkan pengalaman saya tentang beberapa orang
yang membuat salah penafsiran tentang jurusan teknik lingkungan.
Apa sih jurusan teknik lingkungan? Kok banyak ceweknya sih? Mirip sama jurusan kesehatan masyarakat ya? Banyak biologinya?
Nah, pertanyaan-pertanyaan semacam ini yang seharusnya dijawab dengan
benar. Semoga setelah membaca artikel ini pembaca dapat memahami seperti
apa jurusan teknik lingkungan yang sesungguhnya.
Saya sudah melewati lima semester di jurusan teknik lingkungan di salah
satu perguruan tinggi negeri. Pada awalnya, saya sama seperti kebanyakan
orang lainnya, tidak memahami seperti apa itu jurusan teknik
lingkungan. Saya pikir jurusan yang mengusung nama ‘lingkungan’, seperti
isu-isu yang selalu jadi topik hangat dimana-mana itu, adalah jurusan
yang mempelajari bagaimana caranya agar kerusakan lingkungan bisa
diminimalisir (dan yang saya ketahui pada saat itu ya,
global warming).
Ternyata, apa yang saya pikir ya, memang benar. Namun jurusan teknik
lingkungan tidak sesempit itu. Ada banyak topik yang dipelajari oleh
orang yang berstatus mahasiswa jurusan teknik lingkungan.
Teknik lingkungan pada awalnya bernama ‘Teknik Penyehatan’, lalu
berganti nama menjadi Teknik Lingkungan. Institusi yang pertama kali
mengadakan jurusan teknik lingkungan di kampusnya adalah ITB. Makannya
ITB disebut-sebut punya jurusan teknik lingkungan terbaik se-Indonesia.
Tapi tidak hanya itu, ada juga STTL (Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan)
di Jogja, adalah sekolah tinggi ilmu teknik lingkungan pertama di
Indonesia. Lalu ada ITS, UNDIP, UI, Bakrie, Universitas Pasundan, UII
Jogja, dan lain-lain. Ada juga Ilmu dan Teknologi Lingkungan di UNAIR,
silabusnya tidak jauh berbeda dengan Teknik Lingkungan dan 60%
kurikulumnya disesuaikan dengan silabus jurusan teknik lingkungan
se-Indonesia. Namun jurusan ini berada di bawah departemen Biologi.
Jurusan Teknik Lingkungan sendiri kini berada di bawah Fakultas Teknik,
di beberapa institusi jurusan ini diletakkan dibawah departemen Teknik
Sipil dan Perencanaan, jadi jurusan teknik lingkungan memang berkaitan
erat dengan jurusan teknik sipil (terutama dalam teknik peracangan
fasilitas, seperti ilmu ukur tanah, perhitungan beban beton, mekanika
fluida, dsb), dan jurusan teknik planologi (terutama dalam teknik
perancangan fasilitas kota, seperti pengaturan tata letak fasilitas
kota, peta administrasi daerah, data statistik dan kependudukan,
peraturan perancangan fasilitas kota dari Kementrian PU, dsb). Kadang
jurusan teknik lingkungan juga berkaitan dengan jurusan teknik kimia
(dalam hal pengolahan limbah, seperti pengomposan, alat pengelolaan dan
pengolahan sampah atau limbah)
Pada dasarnya, ilmu-ilmu yang dipelajari di jurusan teknik lingkungan
sangat berkaitan erat dengan kesehatan. Singkatnya, di teknik
lingkungan, mahasiswa akan belajar bagaimana caranya untuk mencegah
penyakit dan menjaga kesehatan lingkungan dengan pendekatan teknik.
Jadi, ibaratnya ilmu-ilmu jurusan teknik lingkungan ini adalah ‘perisai’
bagi kesehatan masyarakat, sedangkan ilmu-ilmu jurusan
kedokteran/keperawatan adalah ‘obat’ bagi kesehatan masyarakat. Serunya,
hampir semua industri membutuhkan ilmu teknik lingkungan, apalagi
sekarang peraturan perundang-undangan tentang lingkungan semakin
diperketat. Bahkan institusi pemerintahan pun banyak membutuhkan lulusan
teknik lingkungan. Nah, apa saja yang bakal dipelajari oleh mahasiswa
teknik lingkungan? Berikut ini infonya,
1. Belajar Pencegahan Produksi Limbah
Limbah diproduksi dari kegiatan produksi, seperti sisa-sisa bahan bakar,
sisa bahan baku, dan hasil produksi yang gagal. Di teknik lingkungan,
dipelajari bagaimana caranya meminimisasi produksi limbah dan
memaksimalkan kualitas produk. Caranya, mulai dari pembuatan
chart
atau diagram alir tentang kegiatan dan bahan apa saja yang digunakan
dalam proses produksi, beserta jumlah dan dampaknya bagi proses produksi
dan lingkungan. Dari diagram itu dianalisa aspek apa yang dapat dirubah
agar produksi limbah berkurang. Bisa juga dengan menganalisis limbah
apa saja yang masih bisa dijadikan bahan baku produksi, sehingga jumlah
limbah berkurang.
2. Belajar Pengelolaan Limbah
Limbah yang dihasilkan, tidak bisa langsung dibuang begitu saja. Limbah
harus dikelola dengan baik. Dikelola disini maksudnya, diletakkan di
wadah yang sesuai (dengan karateristik bak yang aman dan tidak akan
rusak dan merusak lingkungan bila dituangkan limbah ke dalamnya),
peletakan wadah harus ditempat yang sesuai (maksudnya tidak akan
mengganggu jalannya proses produksi), pengangkutan dan pengaliran limbah
harus sesuai dan tepat (maksudnya dialirkan dengan media yang baik dan
tidak mudah rusak jika kontak dengan limbah korosif), manajemen
pengelolaan limbah harus baik (meliputi pada jam berapa limbah dikelola,
berapa jumlah pekerja, dsb). Pengelolaan limbah hanya sebatas waktu
dimana saat limbah selesai diproduksi sampai waktu dimana saat limbah
harus diolah, dan waktu dimana saat limbah harus dibuang.
3. Belajar Proses Pengolahan Limbah
Sampah ada untuk dibuang. Eitts, buat mahasiswa teknik lingkungan itu
adalah pemikiran yang sangat kuno. Sebelum dibuang, limbah atau sampah
harus diolah terlebih dahulu. Terutama sampah dan limbah hasil produksi
suatu industri. Kenapa diutamakan dari industri? Umumnya limbah industri
lebih berbahaya daripada limbah domestik (rumahan) yang umumnya hanya
sampah sisa sayur, bungkus makanan, dan kotoran manusia. Limbah industri
berbahaya karena kandungannya yang memiliki nilai resiko tinggi apabila
dibuang langsung ke lingkungan. Misalnya, limbah dari industri
pembuatan batu baterai mengandung bahan kimia beracun (asam sulfat),
kalau dibuang langsung ke sungai dampaknya bisa membahayakan komposisi
didalamnya, seperti kualitas air. Apabila airnya digunakan sebagai
sumber irigasi, bisa membahayakan kualitas tanaman dan tanah yang
terkena aliran air tersebut. Seperti pada kasus Minamata di Jepang,
karena air sungai yang terkontaminasi Raksa. Coba saja di googling.
Di bagian ini, mahasiswa akan belajar banyaaaak sekali alat-alat yang
biasa digunakan oleh industri baik dalam maupun luar negeri untuk
mengolah limbah sesuai dengan karateristik limbah yang dihasilkan. Tidak
hanya itu, kita juga akan belajar bagaimana mendesain alat dan unit
pengolahan limbah tersebut, untuk menghasilkan limbah yang aman dibuang
ke sungai.
4. Belajar Mengolah Air
Mungkin teman-teman pernah mengetahui tentang sistem pengolahan air
sederhana yang menggunakan ijuk dan krikil? Nah, di jurusan teknik
lingkungan hal itu akan dipelajari lebih lanjut. Air yang kita konsumsi
sehari-hari dari kemasan botolan atau PDAM pasti telah melalui proses
pengolahan yang paaaaanjang. Sumber air apa yang akan dipilih pun
dipertimbangkan, mulai dari kandungan Fe, Mg, Mn, Ca, dsb di dalam air
tersebut, kandungan oksigen terlarut, kandungan patogen didalamnya,
kekeruhan air, kesadahan air, hingga kandungan garam dalam air. Semuanya
diteliti hingga didapat angka-angka yang kongkrit. Umumnya sumber air
yang dipilih adalah air tawar, seperti air sungai. Kenapa? Karena air
tawar lebih mudah untuk diolah dan kadar garamnya sangat rendah.
Nah, setelah dipilih sumber air yang tepat, mulailah proses mendesain
bangunan pengolahan air. Eits, apa itu? Bagi teman-teman yang ingin
bekerja di PDAM ilmu ini sangat penting lho. Bangunan pengolah air
adalah sebuah bangunan dalam satu komplek, dimana terdapat unit dan alat
untuk mengolah air dari air yang tidak layak minum, menjadi air yang
layak minum, atau minimal dapat dikonsumsi untuk keperluan sehari-hari.
Ada banyak unit yang dipelajari, misalnya seperti unit penyaringan,
koagulasi (pembubuhan aluminium sulfat untuk mengikat koloid atau
partikel kecil), flokulasi (pengadukan air untuk mengoptimalkan
pengikatan koloid), sedimentasi (pengendapan partikel koloid), filtrasi
(penyaringan air dengan pasir dan kerikil), aerasi (penambahan oksigen
ke dalam air dan pengurangan kandungan Fe), desinfeksi (pemberian
desinfeksi untuk membunuh patogen).
Sebenarnya unit-unit ini juga ada beberapa di rumah sakit dan hotel. Namun unit yang ada dalam ukuran yang kecil dan
portable karena kebutuhan airnya yang lebih sedikit dibandingkan PDAM yang harus mengolah air untuk dikonsumsi jutaan orang.
Setelah air bersih selesai diolah, air-air tersebut kemudian dialirkan
sampai ke rumah warga. Nah, ini juga butuh ilmu khusus, namanya Sistem
Penyediaan Air Minum. Berapa panjang pipa yang dibutuhkan, berapa jumlah
belokan yang ada, berapa jumlah rumah yang butuh pelayanan, berapa
debit air setiap harinya, berapa diameter pipa yang dibutuhkan, berapa
jumlah sambungan pipa yang dibutuhkan, hingga berapa uang yang
dikeluarkan, semua dihitung serinci-rincinga bahkan perlu dibuat
skenario pengalirannya dengan
software khusus.
5. Belajar Merancang TPA
Eh, TPA? Tempat Pembuangan Akhir? Yup, nama yang tidak asing didengar
mungkin adalah ‘Bantar Gebang’, sebuah TPA maha besar yang ada di
bilangan kota Bekasi. Mahasiswa teknik lingkungan harus belajar untuk
membuat TPA. Tempat pembuangan sampah tidak boleh sembarangan loh, harus
baik, benar, dan tidak membahayakan lingkungan. Banyak metode-metode
khusus yang dipelajari dalam perancangan TPA. Misalnya, seperti di
Amerika, sampah ditimbun dalam tanah yang telah dilapisi lapisan
waterproof, lalu
tanah timbunan ditanami rumput atau tanaman lain hingga menjadi bukit.
Bukit ini bisa menjadi sarana rekreasi edukatif. TPA semacam inilah yang
sebenarnya diharapkan oleh pemerintah untuk diwujudkan.
Di TPA sendiri juga ada pengolahan dan pengelolaannya. Sampah-sampah
yang telah dihasilkan dikelola, dipilah, dan dicacah. Setelah itu diolah
dengan
treatment khusus sesuai dengan karateristik sampah.
Misalnya, sampah organik bisa diolah agar dihasilkan gas metana. Gas
metana ini kemudian bisa dimanfaatkan menjadi bahan bakar atau bahan
kompor gas. Bisa juga pengolahan sampah menjadi pupuk.
Pupuk bisa dijual
kembali ke masyarakat. Artinya, sampah tidak terus menumpuk tetapi juga
bisa dimanfaatkan kembali.
Dalam perancangan TPA juga diperhitungkan lho, lama waktu penguraian
sampah. Jadi, desain pengelolaan dan pengolahannya juga diperhitungkan.
6. Belajar Merancang Sistem Plumbing
Plumbing,
apaan tuh? Sistem plumbing secara umum adalah sistem perpipaan. Dalam sistem itu meliputi
reservoir (tandon air), pompa, pipa,
water closet,
urinoir,
lavatory (wastafel),
faucet (kran air),
shower,
floor drain (saluran air buangan di kamar mandi), hingga
septic tank.
Utilitas semacam itu tidak sembarangan didesain loh. Perlu perhitungan
dan perancangan yang baik, mulai dari berapa jumlah air yang dibutuhkan
dalam suatu rumah atau gedung tersebut, berapa ukuran tandon yang
dibutuhkan, berapa panjang dan diameter pipa yang dibutuhkan, berapa
daya pompa, berapa banyak
water closet,
urinoir, wastafel,
faucet yang dibutuhkan berdasarkan kebutuhan, hingga berapa ukuran
septic tank berdasarkan rentang waktu pengurasan dan kebutuhan.
Belajar sistem plumbing tidak hanya itu, dalam sistem ini juga
dipelajari bagaimana mengalirkan air kotor yang berasal dari kamar
mandi. Misalnya, air kotor yang mengalir dari
water closet dan
urinoir harus dialirkan ke
septic tank karena buangannya berupa
black water (air yang tidak bisa digunakan lagi), sedangkan air kotor yang mengalir dari
floor drain harus dialirkan ke
drainase (got) karena buangannya berupa
grey water (ada kemungkinan bisa diolah dan digunakan lagi).
7. Belajar Merancang Sistem Drainase
Drainase adalah bahasa kerennya saluran air, atau biasan kita sebut
‘got’. Drainase dirancang untuk mengalirkan air hujan, jadi seharusnya
memang tidak boleh membuang sampah ke drainase, akibatnya malah banjir.
Padahal drainase dibuat untuk menghindari banjir dengan cara menjadi
media atau wadah mengalirkan air hujan yang jatuh ke badan jalan atau
permukaan tanah.
Perancangan drainase didasarkan besarnya curah hujan pada daerah
tersebut, luas area yang dilayani, dan tata guna lahan area tersebut.
jadi, sebenarnya ukuran, panjang, dan dimensi drainase tidak dirancang
sembarang loh.
8. Belajar Hukum Lingkungan
Kata siapa pelajaran hukum cuma dipelajari oleh mahasiswa jurusan hukum?
Mahasiswa teknik lingkungan juga belajar hukum lho, khususnya hukum
lingkungan. Indonesia, melalui Departemen Lingkungan Hidup mengeluarkan
undang-undang tentang lingkungan, batasan pembuangan limbah, dan standar
baku mutu limbah yang bisa dibuang langsung ke lingkungan
9. Belajar Sistem Manajemen Keselaman, Kesehatan Kerja (SMK3)
Ini juga sebenarnya dipelajari di jurusan kesehatan masyarakat loh, dan
mahasiswa teknik lingkungan juga mempelajarinya. Makannya dalam dunia
pekerjaan lulusan teknik lingkungan seringkali masuk ke bagian HSE
(Health, Safety, and Environment). SMK3 adalah sistem yang digunakan
untuk mencegah terjadinya kecelakaan dalam kerja dan mengutamakan
keselamatan dan kesehatan. Karena tahu tidak, dampaknya bila seorang
pekerja mengalami kecelakaan dalam kerja akibat kelalaian dan
kecerobohan, bukan hanya uang yang harus dikeluarkan si perusahaan untuk
membiayai, namun juga dampak kekurangan tenaga kerja (apalagi kalau si
korban memegang peran penting), kerusakan jaringan komunikasi antar
tenaga kerja, terhambatnya waktu produksi, dan berbagai dampak jangka
panjang lainnya yang merugikan pihak korban dan perusahaan.
Teman-teman pernah melihat pekerja kontraktor memakai topi lapangan dan
sepatu lapangan? Nah itu adalah salah satu bagian dari prosedur SMK3.
Lambang SMK3 sendiri adalah tanda “+” dan lambang gerigi berwarna hijau.
Ada yang pernah melihat?
———————-
Itulah yang dipelajari ketika menjadi mahasiswa teknik lingkungan.
Penjabaran diatas adalah gambaran umumnya saja. Sedangkan detail
pelajaran apa saja yang dipelajari oleh mahasiswa teknik lingkungan,
setiap universitas memiliki kurikulumnya masing-masing, namun pada
dasarnya semuanya sama. Oh ya, di jurusan teknik lingkungan, tidak hanya
pelajaran dasar Fisika dan Matematika saja yang berperan penting, namun
juga Geografi, Kimia, Biologi, Sosiologi, dan Ekonomi. Walau semuanya
tidak dipejari secara mendetail, namun beberapa potongan materi tersebut
bisa saja
nyempil di salah satu mata kuliah jurusan teknik lingkungan.
Prospek kerja lulusan teknik lingkungan? Sebenarnya lulusan teknik
lingkungan sangaaaaaat dibutuhkan di institusi pemerintahan, industri
atau perusahaan manapun, selama industri atau perusahaan itu peduli
untuk merasa butuh untuk tidak mengabaikan kepentingan lingkungan. Namun
kini, setelah dikeluarkannya undang-undang baru dari pemerintah tentang
AMDAL (analisis mengenai dampak lingkungan), hampir setiap industri
(termasuk hotel dan rumah sakit) memiliki sistem pengelolaan dan
pengolahan limbah. Nah, disinilah lulusan teknik lingkungan berperan.
Eh, tapi jangan berpikir kalau bakal jadi seperti pemulung yang
mengangkut sampah ya! Lulusan S1 teknik lingkungan berperan dalam hal
manajemen sistem.
Contohnya, di berbagai industri, baik swasta maupun BUMN, biasanya
lulusan teknik lingkungan akan di tempatkan di bagian HSE (Health,
Safety, and Environment). Hampir semua industri besar, mulai dari
petrokimia, pertambangan, minyak & gas, tekstil, otomotif, makanan
& obat, memlilki bagian HSE. Misalnya kayak Pertamina, Krakatau
Steel, Unilever, Total, Biofarma, dsb. Tidak hanya di industri, bahkan
di beberapa institusi pemerintah pun seperti Kementrian Lingkungan
Hidup, Kementrian ESDM, Kementrian Perindustrian, Kementrian Pekerjaan
Umum, dsb membutuhkan lulusan teknik lingkungan, darimanapun perguruan
tingginya. Intinya, jurusan teknik lingkungan memiliki prospek yang
cukup besar dalam karir dan pekerjaan.
Nah, kesimpulannya, salah besar apabila ada yang mengira bahwa jurusan
teknik lingkungan lebih banyak mempelajari biologi. Pada kenyataannya,
Fisika dan Matematika berperan 45% dari seluruh materi yang diajarkan.
Namun, kreativitas tetap dituntut disini, bagaimana caranya mendesain
suatu unit, alat atau sistem untuk karateristik daerah dan limbah
tertentu agar tidak membahayakan lingkungan dan dapat dimanfaatkan
sebagai sarana edukasi bagi masyarakat luas. Harapannya, lulusan teknik
lingkungan dapat menciptakan keseimbangan antara produksi barang
kebutuhan manusia yang bernilai optimal, dan limbah yang tidak akan
mebahayakan lingkungan dan tidak mengancam keselamatan manusia.
Mahasiswa teknik lingkungan belajar untuk memperhatikan sesuatu yang justru orang lain abaikan. Karena sesungguhnya apa yang terabaikan bisa jadi adalah hal yang patut untuk diperhatikan, seperti limbah.
Semoga pembaca semakin paham dan mengerti seperti apa itu jurusan teknik
lingkungan, terutama untuk adik-adik SMA yang berniat melanjutkan
pendidikan ke perguruan tinggi. Ingat, jangan sampai salah pengertian
tentang jurusan ini ya! Semoga bermanfaat :)